Thursday, November 10, 2011

Berbuatlah Karena Alloh

Edit Posted by with 4 comments
Pelik permasalahan yang terjadi akhir-akhir ini terutama di amanah baik lembaga ataupun instansi, saya conclusion-kan [haha... kemr-Inggris :D] salah satunya adalah karena setiap melakukan sesuatu diawali dengan niat bukan karena Alloh [termasuk yang nulis ini terkadang masih terbersit rasa-rasa yang lain :D].

Well, alhamdulillah ketika bertamasya di dunia maya, kebetulan menemukan artikel ini :D, bisa jadi sebuah tamparan yang cukup mengena dan evaluasi buat saya khususnya :D.

Oleh Dr Abdul Mannan
Problematika besar bangsa ini sejatinya bermula dari sebuah kerusakan kecil. Seperti peristiwa kebakaran hebat, ia bermula dari percikan api yang kecil. Karena itu, kita harus senantiasa mengantisipasi terjadinya kerusakan kecil agar tidak telanjur makin besar.

Kerusakan kecil itu ialah ketidakmurnian niat dalam berbuat atau melakukan sesuatu. Islam sangat memperhatikan masalah niat. Niat yang salah (tidak karena Allah) akan menghilangkan pahala dari kebaikan yang dilakukan meskipun amal tersebut tergolong amal saleh yang dicintai Allah dan rasul-Nya. “Sesungguhnya amalan-amalan itu tergantung niatnya. Sesungguhnya bagi setiap orang adalah apa yang ia niatkan.” (HR Bukhari Muslim).

Jadi, sekalipun seseorang mampu merangkai kata-kata indah nan memukau atau mampu bekerja keras dengan penuh semangat, tapi tidak diniati karena Allah, sia-sialah semuanya. Niat yang buruk atau niat yang ditumpangi oleh kepentingan nafsu akan menimbulkan perselisihan serius sehingga menyebabkan terjadinya perdebatan, perteng karan, perkelahian, bahkan permu suhan dan dendam. Oleh karena itu, ber hati-hatilah dalam mengambil sebuah keputusan sebelum bertindak.

Kita harus memastikan secara jernih bahwa yang kita lakukan benar- benar semata-mata karena Allah agar mendapat keridaan-Nya. Jika sudah memastikan bahwa yang kita lakukan adalah murni karena Allah, lalu direspons keliru oleh orang lain, janganlah terprovokasi untuk marah. Tetaplah tenang dan bersegeralah mengingat Allah. Bahkan jika perlu, mohonkanlah ampun buat orang tersebut dan bermusyawarahlah bersamanya dalam mengambil keputusan. “Maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.” (QS [3]: 159).

Demikianlah yang dicontohkan oleh Khalid bin Walid. Tatkala ia dinonaktifkan sebagai panglima jenderal kaum Muslimin oleh Khalifah Umar bin Khattab, Khalid sama sekali tidak bereaksi negatif, justru ia bersyukur karena Allah telah membebaskan dirinya dari besarnya amanah yang sangat berat. Ketika ditanya oleh sahabatnya perihal penonaktifan dirinya, Khalid menjawab singkat, “Saya berjihad ini karena Allah, bukan karena Umar.” Khalid tetap dalam pasukan meskipun berubah posisi hanya sebagai prajurit biasa.

Sebagai seorang Muslim, sikap seperti itulah yang harus kita pelihara dalam diri kita, yaitu menjaga kemurnian niat dalam berbuat. Jangan sampai hanya karena tidak lagi diberi kesempatan memimpin, lalu langsung meradang dan mencemooh semua orang.

Begitupun bila kita sebagai pemegang kebijakan, hendaknya mengambil keputusan atas dasar niat suci karena Allah yang disertai dengan musyawarah. Jangan sampai membuat keputusan atas dasar kepentingan diri (otoriter), apalagi hanya karena pengaruh pihak lain.

Saat ini dan ke depan, marilah kita tata kembali niat dalam berbuat dan semata-mata hanya mengharap rida Allah SWT. Sekiranya semua umat Islam memahami hal ini dan melakukannya dalam kehidupan sehari-hari, akan terbinalah ukhuwah Islamiyah. Wallahu a’lam.

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/11/11/10/luf4x0-berbuatlah-karena-allah

Sunday, October 9, 2011

Belajar cuek

Edit Posted by with 1 comment
"Belajar cuek...cuek sedikit boleh kan?"
Hmm... satu pelajaran yang bisa saya dapatkan dari orang-orang yang bisa menginspirasi, yaitu orang yang cuek. Hebat ya, terkadang cuek ada sisi positifnya, ya karena segala sesuatu pasti ada sisi positif dan sisi negatif. Cuek, memang terkadang diperlukan ketika menghadapi sebuah permasalahan yang kurang efektif ketika dipikirkan banget-banget gitu. Masalah yang mungkin kurang penting, masalah yang biasanya belum ditabayunkan dengan yang bersangkutan.

Dan ini saya alami, sering sekali orang menilai dari luar saja. Ada yang menilai positif sampai terkagum-kagum (heheh...) ada juga yang menilai negatif sampai titik terdalam seakan-akan kesannya benar-benar negatif (subhanalloh). Padahal kalau saya analisa (cie...mata kuliah anapersisi ni :D), kemungkinan besar yang menilai positif itu justru belum tahu saya yang sebenarnya, kalau sudah tahu pasti bakal ilfeel (heheh) karena kemungkinan apa yang dinilai tidak sama dengan kenyataan :D. Dan kemungkinan kecil untuk yang menilai saya negatif karena mereka belum tahu juga saya yang sebenarnya, terkadang menjudge sesuatu tanpa tabayun terlebih dahulu kepada yang bersangkutan (walau kadang saya juga begitu kalau benar-benar firasat berkata orang ini negatif :D).

Na, mungkin dengan cuek, hal-hal tadi bisa saya lalui. Karena, terkadang ketika dipikir banget, justru kurang efektif. Masih banyak hal lain yang lebih penting untuk dipikirkan :D. Contoh lain juga yang saya alami, ketika menjadi seorang pemimpin, sakaligus da'i tentunya, bagaimana berusaha mewarnai lingkungan tapi bukan terwarnai (this is my motto: "berusaha membaur tapi tidak melebur"). Ketika mendapatkan amanah di luar kerohanian, adalah tantangan besar bagi saya, karena dia harus bisa memanage, adaptasi, mewarnai, dan bla..bla..bla.. di lingkungan yang lebih menantang, medan dakwah yang lebih banyak rintangan dan ujian. Tidak seperti di lingkungan kerohanian yang cukup strategis untuk bergerak, lebih aman dalam menyerukan dakwah (walau tidak sepenuhnya, karena terkadang di dalamnya sendiri ada orang-orang munafik yang berusaha untuk menggulingkan). Tapi, memang itulah yang saya rasakan, ada perbedaan pastinya. Bagaimana seorang da'i dituntut untuk bisa tetap dalam keistiqomahannya dalam rukhi, ketika berada di lingkungan yang sangat-sangat heterogen dan ammah.

Friday, September 30, 2011

Selamat Milad My Brother^^

Edit Posted by with No comments
Hmm... sudah terlambat nge-post, tapi insyaAlloh tidak mengapa :D
From 22 Sept 1999- 22 Sept 2011
Sudah 12 tahun usiamu. Jarak usia yang terpaut cukup jauh membuat jalan dan cara pikir kita. Kadang dekat, kadang jauh karena beda pendapat, kadang mbak yang kurang mengalah, kadang dirimu yang terlalu nakal :D.
Semua campur aduk deh...
Yang mbak harapkan dik, semoga di usiamu yang semakin beranjak dewasa ini bisa lebih dewasa lagi. Menjadi anak yang lebih sholeh lagi (ingat, target insyaAlloh masuk pondok--> jadikan impian mbak yang belum tercapai untuk masuk pondok ini menjadi nyata :)).
Dan semua yang terbaik yang mbak harap untuk dirimu, tidak dapat mbak sebutkan satu per satu.
Mbak sayang denganmu dik, walau meski tak tersampaikan dengan kata-kata (he7x... melo-melo)

Dan inilah kita...
Ternyata sudah setinggi kakaknya :D