Sunday, November 13, 2011

Engkau bilang

Edit Posted by with 2 comments
Engkau bilang ini hanyalah untuk perapian dalam penataan...



Setengah tahun yang lalu, hal ini juga saya alami. Malam itu, menjadi malam yang cukup memilukan buatku. Saat baru saja kutemukan sosok yang bisa membantuku untuk tenang, saat aku baru saja selesai mengungkapkan yang selama ini kupendam karena belum tahu harus bercerita ke siapa lagi. Saat sepekan sebelumnya aku menemuimu, sendiri... berdua dan ditemani bidadari kecilmu :). Saat aku menyimpulkan bahwa engkaulah orang yang memang tepat untukku bertukar pikiran tentang peliknya kehidupan. Saat aku sudah tidak ragu lagi untuk mengungkapkan apa yang ada di benak selama ini. Tapi, takdir berkata lain... saat itulah engkau menyampaikan, bahwa ada perubahan lagi dalam sistem. Rasa tidak percaya sama sekali, secepat inikah? Tapi inilah sunatullah...


Dan di lingkaran itu, amanah sebagai amir melekat. Harus bisa mengkomunikasikan ini dengan teman-teman yang lain. Harus bisa menenangkan kesedihan yang mungkin akan terpancar dari teman-teman. Dan akhirnya engkau berikan solusi untuk mengatasi itu semua. Sebagai kenang-kenangan untuk sesama saudara, terbiasa dengan membawa ini-itu di hari HA itu. Sedih sebenarnya dalam hati ini, tapi aku tidak boleh memperlihatkan hal ini di hadapan mereka terlebih dahulu.

Dan skenarionya memang benar-benar indah. Pagi itu ketika hari HA, saat itu sebuah kabar yang cukup menguras hati dan pikiran. Aku bingung, cemas, apa yang harus aku lakukan? tenang, ya... mencoba menenangkan diri, tapi ya tetap saja ujung-ujungnya nangis :D. Karena emosiku hanya bisa kuungkapkan dengan menangis. Ya Rabb, sebenarnya ada apa, di saat hari itu aku harus berpisah secara sistem dengan teman-teman di lingkaran, di saat itu pula Engkau memberikan suatu kabar yang membuatku tidak tahu harus berbuat apa, sebuah fitnah-fitnah kecil yang dibesar-besarkan, hanya masalah kecil yang seharusnya tidak perlu dibesarkan, hanya salah paham, dan di situ akulah lakon utamanya [uda kaya' sinetron sj ini, pakai lakon utama, haha...] :D

Hanya karena salah paham, kurang adanya komunikasi yang baik, sikap su'udzon, kurang klarifikasi, mengada-adakan, menghubung-hubungkan antara masalah kecil yang satu dengan yang lain, inilah yang terjadi sudah menjadi masalah klasikal di lembaga. Aaarrrghhh...
Saat itu, rasanya ingin berteriak sekencang-kencangnya. Serasa ingin melepas kepala ini untuk sejenak ketika itu. But, life must go on [kemr-Inggris lg :D] Huhft... Alhamdulillah, mencoba menenangkan diri. Lanjut ke agenda setelah itu, rutinitas di lab maintenance. Mencoba untuk tidak menampakkan apa yang baru saja terjadi [mewek.com, hahay...]. Smile...smile... smile... :)




Assalaamu'alaykum... salim sana-sini (dengan teman2 akhwat), cipika-cipiki... lanjut maintenance. Alhamdulillah sedikit terhibur dengan candaan bersama teman2 lab ketika maintenance, ada juga surprise kado untuk teman lab (memang malamnya aku sudah membungkuskan khusus buat saudari seperjuangan yang baru sj milad, sebelum mendapatkan sedikit kabar tentang masalah yang benar2 mengagetkan).

Dan akhirnya singkat cerita, lanjut ke agenda itu. Sedikit kulupakan apa yang sudah terjadi sebelumnya di pagi hari, karena memang harus profesional, tahu tempat dan fokus :). Hmm...tampak biasa saja, tidak ada yang mencurigakan, tidak ada yang terlihat sudah tahu apa yang akan terjadi. Tapi akhirnya ada satu orang yang sadar akan hal itu. Dan semua itu terjawab ketika "mbak" [biasa kami memanggilnya] mengungkapkan semua yang ada di balik hari HA itu. Sebuah sunatullah, perapian dalam penataan, engkau akhiri pertemuan itu dengan banyak nasihat yang sangat-sangat berarti dan tidak pernah kulupakan. Dan kurang lebihnya "Dengan siapapun, bagaimanapun adik-adik akan dibimbing, harus bisa beradaptasi dan menerima semuanya, sebab murabbi hanyalah perantara, bisa jadi suatu saat mbak akan menjadi teman kalian juga dalam satu lingkaran. Jangan melihat dari siapa yang menyampaikan, tapi lihatlah isi dari apa yang disampaikan. Bisa jadi kalian lebih baik daripada murabbi. Terus tetap istiqomah, sejauh apapun tempat untuk menuntut ilmu, harus rela mengorbankan segalanya untuk sampai ke tempat tersebut. Teladani salafush saleh, yang bisa memanfaatkan waktunya sebaik mungkin, mumpung masih muda gali semua yang ada, cari semua yang belum didapat. Dan ujung-ujungnya sampai juga ke yang namanya 'pernikahan' hahay...[memang sudah pantas secara umur sebenarnya, kita-kita ke arah situ, haha...] and bla... bla... bla... " tak bisa kusebutkan satu per satu.

Yang masih selalu kuingat, nasihat tentang kehidupan yang ternyata "mbak" juga tidak jauh berbeda mengalaminya denganku, hampir satu nasib sama menjalani kehidupan, sehingga aku bisa belajar banyak darimu. Anyway, sudah bukan kali pertama aku mengalami hal ini, sehingga insyaAlloh bisa mengikhlaskan semuanya. Bahwa yang namanya pertemuan pasti ada perpisahan, dan aku berharap akan bertemu dengan lingkaran itu lagi kelak di taman syurga-Nya, aamiin.

Sesampainya di rumah, pikiranku secara otomatis kembali ke kejadian awal [entah mengapa juga :D].
Bingung... ingin cari tahu sebenarnya apa yang terjadi di lembaga itu, penarasan eh... penasaran, ingin bertemu dengan pihak-pihak yang terkait. Tapi apa daya, sudah malam, dan malam itu bersamaan dengan malam Idul Adha. Di saat kumandang takbir menggema di seluruh penjuru, di saat itu pula menjadi malam yang cukup memilukan untukku. Seakan merasakan sebuah hantaman batu yang besar di kepala ini dari arah manapun. Di saat itu pula aku harus berpisah dengan teman-temanku. Tapi, Alloh masih memberiku ketenangan, hingga keputusanNya masuk ke dalam qalbu-ku seakan berkata "emy... sudahlah serahkan semua pada-KU, akan AKU tunjukkan jalan keluar di saat yang tepat nanti". Subhanalloh, mungkin itulah jawaban dari semua yang terjadi, serasa suara takbir yang menggema masuk ke naluri yang paling dalam dan terenkripsi menjadi beberapa rangkaian kata yang membuat hati ini tetap bisa tenang". Sebab esok hari masih ada cahaya mentari, sebab esok hari adalah salah satu hari raya umat muslim.

Dan, alhamdulillah beberapa waktu setelah itu, semua sudah terjawab sebenarnya apa yang terjadi.
"Yang baik akan terlihat, dan yang buruk pasti juga akan terlihat"
Dan kurasakan hikmah dari Idul Adha 1432 H, bahwa untuk mencapai ridho-Nya, memang haruslah bisa mengorbankan segalanya, terutama untuk berjalan di atas dakwah-Nya, seperti yang disampaikan
Satria Hadi Lubis—Salah satu hikmah berkurban adalah bersyukur dengan menyadari bahwa sesungguhnya kita tidak pernah berkurban apa pun karena semuanya milik Allah. "Sungguh, Kami telah memberimu nikmat yang banyak. Maka laksanakanlah sholat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah). Sungguh, orang - orang yang membencimu dialah yang terputus (dari rahmat Allah)". (QS. 108 : 1-3) 

2 comments:

putri said...

Maaf ya... karna udah nambah beban kamu....

Unknown said...

ya uda kagak ape-ape, malah buat aku jadi lebih kuat kog :D