Showing posts with label Moeslimah. Show all posts
Showing posts with label Moeslimah. Show all posts

Friday, January 9, 2015

Berkawan itu Bersabar

Edit Posted by with No comments
oleh Salim A. Fillah

Kawan yang tulus kadang memang lebih menyebalkan
daripada musuh yang menyamar

Bekal utama kebersamaan adalah kesabaran

Sebab kita tahu, perjalanan berombongan lebih lambat
dibanding sendirian

Berkawan insan-insan mulia harus disertai kesadaran,
bahwa kita selalu harus "sedang menuju" kemuliaan,
bukan telah sampai

Persaudaraan adalah berbagi. Tetapi
salah satu harus memulai,

Sepertinya lebih mudah bukan dengan meminta...
tapi memberi

Siapa tak sabar belajar, harus sabar
dalam kebodohan

Siapa tak sabar bersaudara, harus sabar
dalam kesendirian

Kadang ada dua orang yang lebih baik bagi mereka
jika dipersaingkan daripada
jika diminta bekerjasama

Tetapi tetaplah bersama...
dalam lingkaran persaudaraan

Melingkar adalah mengokohkan daya (kekuatan) ...

Melingkar adalah menyulam cinta...

Melingkar adalah Kita...



Sunday, July 6, 2014

Aku selalu mengintaimu

Edit Posted by with No comments

Saudariku...
Aku sering mengintaimu dari tirai iman.
Mengikutmu menjelajahi perjalananmu untuk kutitipkan di celah rasa hati ini sebagai tanda kesyukuran bahwa dakwah ini masih ada yang menyahutnya di seluruh benua.
Ingin kurasai semangat yang menyala itu supaya semangat itu dapat menghanguskan kejahiliyahanku dalam diri maupun dirimu, atau dakwah kita yang dihinggapi virus kemalasan dan suka kerehatan.
InsyaAllah aku berharap engkau sentiasa berada dalam ridhaNya.
Menyambung lisan Rasul kepada ummat ini dan Insyaalah, aku percaya Allah akan terus memeliharamu meski aku tak mampu menjagamu selalu, senantiasalah engkau mendahulukan Allah dari kehidupanmu agar engkau selamat sehat disamping iman yang melonjak langit!
Syukur pada Allah...rabithah yang tak putus ku hembuskan ke Arasy tidak tersiakan...alhamdulillah.

Saudariku,
seandainya engkau paham arti seni, engkau akan tersentuh akan lembutnya ‘seni dakwah’ ini.
Dipenuhi oleh rasa rasa...
Dibenahi jiwa jiwa yang hidup yang dititip dari kalamNya lalu berjatuhan dari arasy kristal kristal hidayah yang suci, yang membuatkan engkau terpana merasakan betapa erat dan hangatnya pelukan Allah dalam mencintai hambaNya!
Halus dan memikat.

Saudariku...
Ingatkah engkau, saat dada Rasul dibelah lembut oleh temannya jibril. Disucikan lalu di isikan iman dan rindu serta cinta sebelum dimikrajkan! Hingga kerinduan itu mengantarkanya ke Sidratul Muhataha bertemu kekasihNya sampai satu saat cintanya memanggil lantas ia turun kembali menemui mutarabbinya. Menemui umatnya! Karena cintanya...
Inilah Rasul. Dengan pesona akhlak yang tidak pernah sirna... tak akan melupakan ummatnya... tetaplah dalam jalan dakwah ini...

teruntuk #laskarAngsa #laskarMentari #pasukanAngsa

Friday, May 9, 2014

Betapa (dia) mengkhawatirkanmu

Edit Posted by with No comments
Teruntuk dirimu yang bergelar aktivis. Masihkah gelar itu di belakang nama dan dirimu?

Aku berharap masih. Karena jika tidak, itu artinya engkau sudah tidak bergerak yang berarti mati. Yang lebih menyakitkan lagi, jika manusia mati ketika kematian belum tiba. Semoga tidak terjadi pada kita.

Betapa Tuhan sayang kita semua. Ia kirimkan malaikat di depan, belakang, kiri, kanan, atas, bawah untuk dan demi menjaga kita. Untuk apa? semata-mata untuk melindungi kita. Percayalah, mereka hadir untuk melindungi kita dari segala macam bentuk perbuatan zhalim terhadap diri sendiri maupun kepada orang lain. Itupun jiika kita (masih) mau membaca kehadirannya (malaikat).

Malaikat memang Ia kirimkan kepada manusia biasa juga ‘tidak biasa’. Kau tau siapakah yang ‘tidak biasa’ itu? Bisa jadi salah satunya adalah kamu. Ya, kamu yang biasa bergelar aktivis. Aktivis berdasarkan esensinya, bukan hanya sekedar tittle-nya saja.

Selain malaikat yang tak nampak di pelupuk mata kita, masih ada sosok-sosok lain yang seperti ‘malaikat’ meski ia manusia biasa (juga). Tapi mereka pun hadir untuk melindungi dan mengingatkan dalam kebaikan serta dalam menjaga diri dari perbuatan ma’ruf.

Oke, kita sebut saja ia guru/ustadz/murobbi kita.

Betapa bahagianya manusia, jika ia tau bahwa ada orang lain (non-nasab) yang mengkhawatirkan dirimu yang bisa jadi melebihi kekhawatiran saudara senasabmu (terkait perkara akhirat).

Bahagia, bukan?

Ia khawatir jika masih ada bacaan al-Qur’anmu yang belum tartil,
khawatir jika hafalanmu masih pada surah itu-itu saja,
khawatir jika engkau tidak memberikan kabar jelas tentang ketidakhadiranmu dari agenda “langit” tersebut,
khawatir jika engkau sakit, sehingga akan sedikit terhambat aktivitas menebar manfaatmu,
khawatir jika mulai ada yang salah dari pergaulanmu,
khawatir jika banyak mutaba’ah yang bolong akibat ke-futuran hatimu,

Dan masih banyak lagi kekhawatiran lainnya yang mewarnai hatinya tentang dirimu. Bahkan, kerap kali, kekhawatiran itu hadir di antara padatnya aktifitas mereka, para orang luar biasa yang masih menyempatkan berfikir tentang kita (yang mungkin saja, kita kerap lupa pada mereka).

Sungguh, betapa mulianya mereka, para guru yang luar biasa itu. Banyak cara untuk menepis kekhawatiran mereka terhadap dirimu, wahai sosok shalih/ah. Bisa saja mereka mencari tau tentangmu dari segala macam hal. Semata-mata karena kadar kasih sayang yang Dia titipkan pada mereka sangatlah banyak. Ya, kasih sayang berlandaskan iman. Percayalah.

Tak pernah mereka berfikir untuk dibayar dari pundi-pundi rupiah yang mungkin sudah bisa kau jemput dan nikmati. Yang mereka mau hanyalah, bagaimana caranya bisa bersama-sama mengerjakan amal shalih dan saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Simple, bukan? Iya, tapi selain Tuhan yang ada dimana-mana, setan pun ada dimana-mana ketika kita memiliki niat baik.

Betapa Tuhan sayang kita semua, yakinlah. “Sayap” Rahmat-Nya begitu membentang luas di bumi ini. Bersyukur dan berbahagialah wahai manusia yang pandai memetik hikmah, meski hanya dari satu desahan nafas.


Sumber: http://www.dakwatuna.com/

Wednesday, April 16, 2014

Dakwah Mengajariku

Edit Posted by with No comments
Kala Dakwah Mengajariku
@Sebutir_Pasir





Ketika Dulu aku tak mengerti siapa dan untuk apa aku ada.
Dakwah mengajariku menjadi seorang yang hidup untuk yang lain...

Ketika dulu aku merasa lemah pada hidupku,
Dakwah mengajariku bagaimana berjuang hingga menjadikanku sosok yang kuat

Ketika dulu aku selalu menggugat allah atas takdirnya....
Dakwah mengajariku menjadi hamba yang ikhlas terhadap setiap ketentuanNya...

Ketika aku selalu tergesa-gesa mengejar apa yang ku mau...
Dakwah mengajariku tentang ketekunan dan kesabaran menanti kemenangan...

Ketika dulu aku hanya bermimpi kecil dan selalu berpikir apa adanya...
Dakwah mengajariku untuk berani bermimpi besar dan membuat cita sebanyak mungkin....

Ketika dulu aku hanya hidup untuk diri sendiri...
Dakwah mengajariku untuk bisa peduli dan peka pada keadaan orang lain...

Ketika dulu aku tak bisa menerima keburukan orang lain atasku...
Dakwah mengajariku untuk membalas keburukan dengan kebaikan...

Dakwah itu Cinta...

Ketika dulu aku merasa tak punya siapapun yang menolongku...
Dakwah mengajariku tentang keyakinan bahwa Allah itu akan selalu ada untuk hamba-Nya...

Ketika dulu akau tak bisa menyentuh hati manusia...
Dakwah mengajariku tentang bahasa hati...

Ya... Dakwah telah mengajariku banyak hal...
Dakwah telah menempaku mejadi sosok yang lebih berarti untuk hidup yang hanya sekali...

Dakwah mengajariku tentang Cinta Sejati
Dakwah mengajariku tentang kekuatan agar aku tak menjadi manusia yang mudah menyerah...
Dakwah mengajariku menjadikan sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin....
Dakwah mengajariku tentang sebuah keikhlasan...
Dakwah mengajariku agar senyumku selalu tersebar dimana saja... meski hatiku mendung....
Dakwah telah mengajariku bagaimana menjadikan dunia ini ada dalam genggaman tanganku... bukan pada hatiku...

Hingga ketika Allah memberiku kesedihan.. Aka tahu bagaimana caranya tersenyum lagi...

Monday, April 15, 2013

Ini Penjelasanku

Edit Posted by with 4 comments
Kata dia, "ini ujian hati dik, tinggal anti kuat atau tidak"
Kata mereka, "sudah biasa, ketika seorang akhwat sudah lulus dan kemudian sudah mendapatkan pekerjaan, di sana... akan ada yang mencoba mendekati"
dan kata mereka juga, "ini merupakan trik-trik laki-laki"
Benar semua yang dikatakan dia, mereka dan mereka.
Hmm, ketika teringat nasihat-nasihat ini, simpulan senyum-senyum muncul di raut wajahku. Kalau dipikir-pikir, ada-ada saja hidup ini. Inilah pengalaman hidupku yang nyata :)


Dan inilah penjelasanku...
Ini kisahku, saat dulu mengenal cinta semu
Cuma cerita pencarian jati diri anak manusia
Masa belia, serba ingin mencoba segalanya
Tanpa sadar perangkap setan telah menanti di sana

Cintamu menerangkapku dalam dosa dan nafsu
Sampai hari itu, kejadian itu
Aku memutuskanmu
Ini penjelasanku...

Apa yang engkau mau kuberikan semampuku
Tapi yang satu itu tak boleh berlaku
Meski kau trus meminta tuk lakukan demi cinta
Tapi maaf aku tak mudah tuk tergoda
Saat kau tanya mengapa, Oou ku tak mau
Aku pun yakin menjawab
Karena Nya aku menolakmu
Lagunya Bang Haris Isa
Inpiring me,  dan buat kau, kau dan kau... inilah penjelasanku :) 

Monday, October 1, 2012

Mereka Bilang

Edit Posted by with 6 comments
Hihihi...
Ketika buka-buka file gambar, dan taraaamm... menemukan satu dua foto yang bikin ketawa sendiri [#bukanGila.com]
Masih ingat, ketika mengampu satu mata pelajaran di salah satu kelas, beberapa anak-anak ini usek sendiri, pinjam spidolnya guru, lalu mereka lukiskan apa yang ada di pikiran mereka, dengan mencorat-coret whiteboard.
Saya biarkan, yah... namanya juga anak-anak. Kreatifitas mereka biar berkembang, tidak perlu terlalu tegang dan galak ketika menghadapi mereka. Sebab, terkadang justru keluguan-kepolosan-dan manja merekalah yang bisa membuat saya tersenyum dengan sebenar-benar tersenyum. Lucu... bahagia rasanya :).
Dan, ketika mereka teriak-teriak "ust...ini nulis-nulis di papan tulis!", terdengar beberapa melaporkan kenakalan teman-temannya pada saya. Dan saya justru terkejut dengan hasil karya mereka, haha...
This is it ! [sempat saya ambil gambarnya]

Semoga ini memang kejujuran mereka, heheh.... :D
aamiin... moga hatinya yang lebih cantik :)
ini hasilnya...
ealah... ada-ada saja mereka :)
thanks teman-teman 3C... you make me smile....

Monday, July 9, 2012

Siapapun Suami Kita

Edit Posted by with No comments
Siapapun Suami Kita




Heheh... "Konyol, kalau saya bilang", tiba-tiba posting coretan dengan judul yang aneh. Yups, saya terinspirasi dari sebuah tausiyah yang disampaikan temen saya. Awalnya dia bingung mau kasih judul apa di tausyahnya, tapi akhirnya dia mendapatkan judul "Siapapun Suami Kita, Kita Harus Sholeh". Jadi ni sebenarnya simpulan saya saja dari apa yang disampaikan teman, saya posting dah. Soalnya seru juga judulnya, heheh.
Let's cekot-cekot eh, cekidot...
Bismillaah,
Langsung saja alias to the point. Intinya simpel tapi ketika dikupas kulitnya (jiah... bahasanya beuh) sangat dalam dan luas maknanya(lebay mode on). Diambil dari beberapa ayat dalam satu surat di Al-Qur'an, that's QS. Ath-Tahrim atau surat ke enam puluh enam, ayat ke 10 sampai 12.

Ayat 10=> "Allah membuat istri Nuh dan istri Lut perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya, maka kedua suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikit pun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya); “Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka)“.

Ayat 11=> "Dan Allah membuat istri Fir’aun sebagai perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika istri Fir’aun berkata: “Wahai Rabbku, bangunkanlah untukku di sisi-Mu sebuah rumah dalam surga. Dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang dzalim”.

Tuesday, April 3, 2012

Anatomi Akhwat

Edit Posted by with No comments

[repost dari tetangga sebelah]

ANATOMI AKHWAT :)

-M A T A : Menjaga pandangan
-T A N G A N : Suka menolong dalam kebajikan...
-P E R U T : Terjaga dari makanan yang syubhat, apalagi yang haram
-O T A K : Berfikir positif dan jauh kedepan
-M U L U T : Tidak terbuka (bicara) kecuali untuk hal-hal yang baik dan benar serta bermanfaat
-K A K I : Selalu berjalan di atas jalan kebaikan
-T U B U H : Lindungi dengan pakaian & hijab syar'i serta tdk dipertontonkan pada khalayak ramai.

Wednesday, December 14, 2011

Tuesday, December 13, 2011

Hore, aku bisa make over ^_^

Edit Posted by with 5 comments
Melukis pada wajah :D
ehem, just want to try "kemayu" sedikit, gapapa yach... persiapan buat wisuda, aamiin (lhoh...)
Beberapa waktu yang lalu saia mendapatkan ilmu ini secara cuma-cuma, ya walau baru dasar tapi dampaknya besar :)
Didapatkan dari seorang ukhty [Thanks to Ukh.ER atas ilmu ini], yang namanya perempuan setidaknya bisa melakukan yang satu ini, apalagi seorang muslimah. Jangan kalah donk dengan wanita yang lain, di balik kesederhanaannya muslimah juga kudu pinter dandan, apalagi buat suami kelak [hahah... jauh buuu...]. Remember, just "suami" bukan yang lain :).
Let's cekot-cekot eh... cekidot!

Yang sekarang lagi tren di kalangan cewek apalagi remaja masa kini tu, make up wajah yang natural, artinya bisa nyatu dengan wajah asli gitu walau make-up.an tapi seperti hampir ga kelihatan kalau pake make-up :). So, ga kelihatan banget kaya badut di pesta ultah, heheh... atau bahkan sampai "manglingi" [bahasa jawa ni, artinya kaya' bukan dia gitu kalau lihat mukanya, jadi beda]

Ini warna-warna pilihan untuk make up dengan warna kulit, bisa menciptakan kesan alami pada riasan wajah:
> Warna Kulit Kuning Langsat
    - Alas bedak dan bedak taburnya disesuaikan sama warna kulit aja, karena kuning langsat cenderung sudah hampir mendekati putih. Tapi kalo pengin lebih putih lagi bisa ditambah atau ganti yang warna bedaknya agak putih.
        - Perona pipi pake yang pink [baby pink]

> Warna Sawo Matang
    - Sama dengan warna kulit aja, sawo-sawo manis gitu :D.
        - Perona pipi pake yang warna2 karamel gitu, tapi kalopun pake pink juga ga masalah tapi yang lebih kalem.

> Kulit Berwarna Coklat
    - Alas bedak, sesuai warna kulit aja.
    - Perona pipi, yang kalem-kalem warnanya.

Eng, ing, eng saatnya corat-coret wajah...
1. Pertama wajah dibersihkan dulu pake milk cleanser kemudian dibersihkan lagi pake face tonic. Setelah itu wajah dibasuh dengan air hangat supaya make-up yang dipakai nanti tidak mudah luntur.

2. Setelah wajah dikeringkan dengan handuk, lalu pakai pelembab atau alas bedak. Di sini, ada saran yang punya kulit berminyak ga usah pake pelembab jadi langsung pakai alas bedak aja. Bagi yang punya kulit normal, kering, atau normal-berminyak pakai pelembab dulu baru kemudian diberi alas bedak, seru euy... :)

3. Lanjut-lanjut... setelah semua merata dilanjutkan ke tahap penaburan bunga [eh... penaburan bedak]. Pake bedak padat, bisa sampai beberapa lapis [ratusan, kaya' iklan :D]. Biasanya kalo rias pengantin normalnya sampai tujuh lapis [beuh... ga bisa membayangkan perempuan2 yang nikah betapa beratnya membawa beban bedak di wajah, heheh...tabaruj*]. Kembali ke topik, karena ni temanya natural n minimalis, jadi paling hanya dua lapis. Lapisan pertama warnanya yang agak gelap, bisa juga disesuaikan dengan warna kulit. Lapisan kedua agak cerah, then lapisan selanjutnya lebih cerah lagi. Jadi, semakin keluar semakin cerah warnanya, tapi juga disesuaikan dengan jenis kulit. Kalo basicly kulit agak gelap takutnya malah kelihatan banget belangnya [kaya permen nanti, blang-blang-blang, haha...]

4. Lanjut ke bagian bawah mata diberi pensil mata [hadeh... baru pertama pake nangis-nangis nie, kena pensil :D]. Ini dipake di bagian garis mata yang bawah.

5. Lanjut ke atas di kelopak mata. Na, di sini ada dua warna yaitu untuk kelopak mata itu sendiri and di atasnya untuk bagian bawah alis di tulang atas kelopak mata. Untuk bagian kelopak mata, biasanya pake warna yang sesuai dengan karakter wajah [hehe, ada karakternya ternyata] kalo wajahnya agak kalem ya pake yang agak berani sedikit warnanya, kalo wajah galak atau tegas ya pake yang agak soft-soft warnanya, tapi ni juga tidak terlepas dengan warna di atasnya. Jadi, dimatch-kan juga cocok ga untuk warna di atasnya. Nah, untuk warna di atas kelopak mata biasanya disesuaikan dengan kostum yang dipake. Misal pake baju warna ijo ya pake warna ijo, biru juga biru. Tapi ni fleksibel, kalo misalnya ga cocok dengan warna yang sesuai dengan kostum, bisa diganti dengan warna lain yang sinkron dengan warna di keopak. [haduh... belibet yak :D].

6. Lanjut ke bagian alis mata. Disesuaikan dengan bentuk alis asli aja biar natural. Dan ingat, pada umumnya pada dicukur alisnya kalo pake make-up, jangan sampai mau ya ukhty-ukhty... ini pemberian Alloh sudah paling baik :).

7. Then, turun ke pipi. Di sini, dilihat juga bentuk wajahnya. Kalo berwajah lonjong cara melukis pipinya dibuat melingkar di bagian tulang pipinya. Supaya terkesan ga terlalu lonjong. Trus, untuk yang berwajah agak bulet, atau oval atau bahkan bulet :D, cara melukisnya pas di tulang pipi, dari bawah ke atas, mengikuti bentuk tulang pipinya. Supaya wajahnya terkesan ga terlalu bulet. Dan jangan terlalu berlebihan warnanya nanti malah jadi saingan jengkelin :D.

8. Kemudian ke bagian tengah yaitu hidung. Supaya hidung terkesan agak mancung [cie... acha-acha] dan tulang hidngnya terlihat maka bagian tengahnya [tulang hidung pas] diberi eye-shadow yang warna putih dari hidung bagian atas turun ke bawah. Kemudian bagian samping kanan-kiri hidung diberi eye-shadow yang warna agak coklat.

9. Terakhir ke bawah lagi, di bagian mulut, yaitu lipstik. Once again, tema kita natural, jadi kita pilih juga warna lipstik yang tidak terlalu mencolok maybe warna-warna pastel. Jika belum terlalu terlihat bisa ditambah warna yang agak mencolok sehingga terjadi perpaduan. Tapi, disini juga diperhatikan sesuai tidak dengan warna asli mulut dan kulit.

Dan akhirnya, selesailah lukisan natural di wajah kita ukhty :).
Jika ingin menghapus lukisan, kembali ke awal menggunakan milk cleanser dan face tonic dengan kapas.

* Tabarruj:
Apa itu tabarruj yang di maksudkan di dalam firman Alloh:
"dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkahlaku (tabarruj) seperti orang-orang jahiliah dahulu (pertama)". (Al-Ahzab:33) 


Mereka yang memasukkan celak dan pewarna telapak tangan sebagai perhiasan yang boleh dipamerkan di hadapan lelaki yang mahram, biasa digunakan oleh para wanita pada zaman Rasulullah s.a.w atau tradisi arab dahulu:
1. Khidhab Pewarna untuk tangan
2. Shufrah Pewarna kuning untuk wajah
3. Kalkun Pewarna untuk memerahkan wajah
4. Isfidaj Pewarna putih untuk wanita berhias.
5. Celak Berhias pada mata


Intinya bercelak [berias] yang wajar saja, secara sopan tidak perlu berlebih seperti wanita jaman sekarang pada umumnya, sebab kita punya izzah sebagai seorang muslimah :). 

Sunday, November 13, 2011

Engkau bilang

Edit Posted by with 2 comments
Engkau bilang ini hanyalah untuk perapian dalam penataan...



Setengah tahun yang lalu, hal ini juga saya alami. Malam itu, menjadi malam yang cukup memilukan buatku. Saat baru saja kutemukan sosok yang bisa membantuku untuk tenang, saat aku baru saja selesai mengungkapkan yang selama ini kupendam karena belum tahu harus bercerita ke siapa lagi. Saat sepekan sebelumnya aku menemuimu, sendiri... berdua dan ditemani bidadari kecilmu :). Saat aku menyimpulkan bahwa engkaulah orang yang memang tepat untukku bertukar pikiran tentang peliknya kehidupan. Saat aku sudah tidak ragu lagi untuk mengungkapkan apa yang ada di benak selama ini. Tapi, takdir berkata lain... saat itulah engkau menyampaikan, bahwa ada perubahan lagi dalam sistem. Rasa tidak percaya sama sekali, secepat inikah? Tapi inilah sunatullah...


Dan di lingkaran itu, amanah sebagai amir melekat. Harus bisa mengkomunikasikan ini dengan teman-teman yang lain. Harus bisa menenangkan kesedihan yang mungkin akan terpancar dari teman-teman. Dan akhirnya engkau berikan solusi untuk mengatasi itu semua. Sebagai kenang-kenangan untuk sesama saudara, terbiasa dengan membawa ini-itu di hari HA itu. Sedih sebenarnya dalam hati ini, tapi aku tidak boleh memperlihatkan hal ini di hadapan mereka terlebih dahulu.

Dan skenarionya memang benar-benar indah. Pagi itu ketika hari HA, saat itu sebuah kabar yang cukup menguras hati dan pikiran. Aku bingung, cemas, apa yang harus aku lakukan? tenang, ya... mencoba menenangkan diri, tapi ya tetap saja ujung-ujungnya nangis :D. Karena emosiku hanya bisa kuungkapkan dengan menangis. Ya Rabb, sebenarnya ada apa, di saat hari itu aku harus berpisah secara sistem dengan teman-teman di lingkaran, di saat itu pula Engkau memberikan suatu kabar yang membuatku tidak tahu harus berbuat apa, sebuah fitnah-fitnah kecil yang dibesar-besarkan, hanya masalah kecil yang seharusnya tidak perlu dibesarkan, hanya salah paham, dan di situ akulah lakon utamanya [uda kaya' sinetron sj ini, pakai lakon utama, haha...] :D

Hanya karena salah paham, kurang adanya komunikasi yang baik, sikap su'udzon, kurang klarifikasi, mengada-adakan, menghubung-hubungkan antara masalah kecil yang satu dengan yang lain, inilah yang terjadi sudah menjadi masalah klasikal di lembaga. Aaarrrghhh...
Saat itu, rasanya ingin berteriak sekencang-kencangnya. Serasa ingin melepas kepala ini untuk sejenak ketika itu. But, life must go on [kemr-Inggris lg :D] Huhft... Alhamdulillah, mencoba menenangkan diri. Lanjut ke agenda setelah itu, rutinitas di lab maintenance. Mencoba untuk tidak menampakkan apa yang baru saja terjadi [mewek.com, hahay...]. Smile...smile... smile... :)


Sunday, October 9, 2011

Belajar cuek

Edit Posted by with 1 comment
"Belajar cuek...cuek sedikit boleh kan?"
Hmm... satu pelajaran yang bisa saya dapatkan dari orang-orang yang bisa menginspirasi, yaitu orang yang cuek. Hebat ya, terkadang cuek ada sisi positifnya, ya karena segala sesuatu pasti ada sisi positif dan sisi negatif. Cuek, memang terkadang diperlukan ketika menghadapi sebuah permasalahan yang kurang efektif ketika dipikirkan banget-banget gitu. Masalah yang mungkin kurang penting, masalah yang biasanya belum ditabayunkan dengan yang bersangkutan.

Dan ini saya alami, sering sekali orang menilai dari luar saja. Ada yang menilai positif sampai terkagum-kagum (heheh...) ada juga yang menilai negatif sampai titik terdalam seakan-akan kesannya benar-benar negatif (subhanalloh). Padahal kalau saya analisa (cie...mata kuliah anapersisi ni :D), kemungkinan besar yang menilai positif itu justru belum tahu saya yang sebenarnya, kalau sudah tahu pasti bakal ilfeel (heheh) karena kemungkinan apa yang dinilai tidak sama dengan kenyataan :D. Dan kemungkinan kecil untuk yang menilai saya negatif karena mereka belum tahu juga saya yang sebenarnya, terkadang menjudge sesuatu tanpa tabayun terlebih dahulu kepada yang bersangkutan (walau kadang saya juga begitu kalau benar-benar firasat berkata orang ini negatif :D).

Na, mungkin dengan cuek, hal-hal tadi bisa saya lalui. Karena, terkadang ketika dipikir banget, justru kurang efektif. Masih banyak hal lain yang lebih penting untuk dipikirkan :D. Contoh lain juga yang saya alami, ketika menjadi seorang pemimpin, sakaligus da'i tentunya, bagaimana berusaha mewarnai lingkungan tapi bukan terwarnai (this is my motto: "berusaha membaur tapi tidak melebur"). Ketika mendapatkan amanah di luar kerohanian, adalah tantangan besar bagi saya, karena dia harus bisa memanage, adaptasi, mewarnai, dan bla..bla..bla.. di lingkungan yang lebih menantang, medan dakwah yang lebih banyak rintangan dan ujian. Tidak seperti di lingkungan kerohanian yang cukup strategis untuk bergerak, lebih aman dalam menyerukan dakwah (walau tidak sepenuhnya, karena terkadang di dalamnya sendiri ada orang-orang munafik yang berusaha untuk menggulingkan). Tapi, memang itulah yang saya rasakan, ada perbedaan pastinya. Bagaimana seorang da'i dituntut untuk bisa tetap dalam keistiqomahannya dalam rukhi, ketika berada di lingkungan yang sangat-sangat heterogen dan ammah.

Sunday, August 7, 2011

Umi... i proud of you...

Edit Posted by with No comments


Ahad, 7 Ramadhan 1432 H

Pagi itu, saya bersama umi yang bangun lebih dahulu untuk menyantap makanan sahur :). Awalnya kami sambil mengobrol-ngobrol ringan, sampai akhirnya saya bercerita kalau bulek (adik ibu saya) sering bertanya tentang bahasa Inggris lewat sms. Bulek biasa menanyakan hal ini ketika sambil mengajari anaknya (keponakan saya) mengerjakan PR. Ya, kalau dihitung-hitung hanya seangkatan saya ke bawah yang bisa belajar bahasa Inggris dengan lebih baik, heheh... walau sebenarnya juga tidak pandai-pandai amat :D. Maklum, anak-anak simbah hanya tamatan SMP, SD saja. Hingga obrolan kami mengarah ke ibu, beliau bercerita bagaimana perjuangan beliau ketika mempertahankan untuk tetap bersekolah.

Kalau dari cerita beliau, kakek (almarhum) memang orang yang sangat kolot, dan karena memang basicly dari keluarga yang pas-pasan, beliau takut kalau sekolah hanya akan menghabiskan biaya. Beliau juga beranggapan bahwa perempuan ujung-ujungnya hanya di dapur (memang benar-benar kolot). Tapi, ibu berusaha mematahkan pendapat bapaknya itu. Beliau nekat ingin melanjutkan sekolah ke jenjang SMP. Dengan dibantu kakak perempuan (bude), seharga Rp 21.000,- akhirnya beliau mendaftar di sekolah terfavorit di kabupaten daerah kelahirannya. Uang sebesar itu jaman dahulu sudah cukup untuk bersekolah selama 3 tahun kata beliau, tidak perlu biaya tambahan apa-apa lagi. Ketika mendaftar, sampai tes ujian masuk sekolah pun beliau tidak menceritakannya kepada orang tua. Tahu-tahu sudah diterima dan masuk sekolah (subhanalloh...).

Karena dari orang tua sudah tidak mengijinkan dari awal, maka uang sakupun ibu juga mencari sendiri. Beliau sekolah sambil bekerja dengan menjadi buruh batik (hmm... ternyata ibu bisa membatik). Hasil dari buruh batik beliau tabung dan beliau pakai untuk uang saku sekolah sehari-hari. Dahulu makanan dan jajanan masih sangat murah kata beliau. Ada yang Rp 1,- ada juga Rp 5,- Rp 25,- Rp 50,- itu sudah dapat makanan jajanan sekolah. Biaya SPP pun hanya Rp 1.000,- . Hmm... sungguh berubah jaman sekarang apa-apa mahal :D. Karena ibu juga masih punya dua orang adik, maka uang yang dihasilkan beliau pun juga dibagi untuk membantu menyekolahkan adik-adiknya ketika beliau sudah bekerja lulus dari SMP. Sungguh perjuangan yang tidak terhitung, sangat mandiri sekali ibu, hmm... saya harus bisa meneladaninya. Terkadang saya malu, sudah sebesar ini belum bisa membuat orang tua tersenyum, yang ada cuma minta-minta-minta dan minta :D.

Salah satu yang bisa membuat saya selalu bersemangat dalam apapun (selagi itu kebaikan) adalah mengingat orang tua saya. Perjuangan, pengorbanan dan semangat kerja keras pantas sekali diteladani. Menjadi anak yang bisa memberikan yang terbaik untuk orang tua adalah cita-cita saya khususnya dan semua anak pada umumnya.
Di dalam hadits yg diriwayatkan oleh Imam Bukhari disebutkan bahwa ketika sahabat Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma melihat seorang menggendong ibu untuk tawaf di Ka’bah dan ke mana saja ‘Si Ibu’ menginginkan, orang tersebut berta kpd, “Wahai Abdullah bin Umar, dgn peruntukanku ini apakah aku sudah membalas jasa ibuku.?” Jawab Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma, “Belum, setetespun engkau belum dpt membalas kebaikan kedua orang tuamu” [Shahih Al Adabul Mufrad No.9]
Subhanalloh... kita tidak akan bisa membalas semua jasa-jasa dari orang tua kita :).

Friday, July 29, 2011

Dan ketika tubuh ini merasakan sakit

Edit Posted by with 2 comments

Tidak ada alasan ketika seorang pejuang berhenti melakukan dakwah, ingin selesai dalam jalan dakwah, kecuali ketika dia MATI. Dan ketika tubuh ini merasakan sakit, alhamdulillah ini artinya Alloh sedang menginginkan saya untuk beristirahat sejenak. Tapi, sebelum tubuh ini benar-benar tidak bisa berdiri dengan tegak, maka rasa sakit itu adalah sebagai kekuatan untuk terus bergerak. Dakwah tidak butuh orang yang lemah, orang yang banyak mengeluh, orang yang manja. Tapi dakwah adalah butuh orang-orang yang benar-benar berkomitmen dengan keikhlasan satu tujuan-ialah Alloh SWT. Tapi harus ada batasan-batasan juga ketika memanage diri sendiri, karena kalau bukan diri sendiri, siapa lagi orang yang bisa mengukur kemampuan diri, dan ingat, tawazun itu penting.

Dan ketika rasa sakit itu datang, ada pengobat yang bisa menawarkan sedikit rasa sakit ini, yang memang tidak bisa dibandingkan dengan rasa sakit yang diderita saudara di Palestina. Alhamduillah saya menemukannya, selembar nasihat ini...
Teringat kembali akan nasehat, Ust. Rahmat Abdullah,  
Tentang dakwah...
Memang seperti itu dakwah. Dakwah adalah cinta. Dan cinta akan meminta semuanya dari dirimu. Sampai pikiranmu. Sampai perhatianmu. Berjalan, duduk, dan tidurmu.
Bahkan di tengah lelapmu, isi mimpimu pun tentang dakwah. Tentang umat yg kau cintai.Lagi-lagi memang seperti itu.
Dakwah..Menghisap saripati energimu. Sampai tulang belulangmu.Sampai daging terakhir yg menempel di tubuh rentamu. Tubuh yg luluh lantak diseret-seret. Tubuh yang hancur lebur dipaksa berlari.
Seperti  itu pula kejadiannya pada rambut Rasulullah. Beliau memang akan tua juga.Tapi kepalanya beruban karena beban berat dari ayat yg diturunkan Alloh.
Sebagaimana tubuh mulia Umar bin Abdul Aziz. Dia memimpin hanya sebentar.Tapi kaum muslimin sudah dibuat bingung.Tidak ada lagi orang miskin yg bisa diberi sedekah.Tubuh mulia itu terkoyak-koyak. Sulit membayangkan sekeras apa sang Khalifah bekerja.Tubuh yang segar bugar itu sampai rontok. Hanya dalam 2 tahun ia sakit parah kemudian meninggal.Toh memang itu yang diharapkannya, mati sebagai jiwa yang tenang.
Dan di etalase akhirat kelak, mungkin tubuh Umar bin Khathab juga terlihat tercabik-cabik.Kepalanya sampai botak. Umar yang perkasa pun akhirnya membawa tongkat ke mana-mana. Kurang heroik? Akhirnya diperjelas dengan salah satu luka paling legendaris sepanjang sejarah, luka ditikamnya seorang Khalifah yang sholih, yang sedang bermesra-mesraan dengan Tuhannya saat sholat.

Dakwah bukannya tidak melelahkan... 
Bukannya tidak membosankan...
Dakwah bukannya tidak menyakitkan...
Bahkan juga para pejuang risalah bukannya sepi dari godaan kefuturan.

Tidak... 
Justru kelelahan....
Justru rasa sakit itu selalu bersama mereka sepanjang hidupnya.
Setiap hari, satu kisah heroik, akan segera mereka sambung lagi dengan amalan yang jauh lebih “tragis”.

Justru karena rasa sakit itu selalu mereka rasakan, selalu menemani...
Justru karena rasa sakit itu selalu mengintai ke mana pun mereka  pergi...
akhirnya menjadi adaptasi...

Kalau iman dan godaan rasa lelah selalu bertempur,pada akhirnya salah satunya harus mengalah.Dan rasa lelah itu sendiri yang akhirnya lelah untuk mencekik iman...Lalu terus berkobar dalam dada...
Begitu pula rasa sakit...Hingga luka tak kau rasa lagi sebagai luka. Hingga “hasrat untuk mengeluh” tidak lagi terlalu menggoda, dibandingkan jihad yang begitu cantik.
Begitupun Umar...
Saat Rasulullah wafat, ia histeris. Saat Abu Bakar wafat, ia tidak lagi mengamuk.Bukannya tidak cinta pada abu Bakar. Tapi saking seringnya “ditinggalkan”, hal itu sudah menjadi kewajaran. Dan menjadi semacam tonik bagi iman... 
Karena itu kamu tahu...
Pejuang yg heboh ria memamer-mamerkan amalnya adalah anak kemarin sore. Yang takjub pada rasa sakit dan pengorbanannya juga begitu. Karena mereka jarang disakiti di jalan Alloh...
Karena tidak setiap saat mereka memproduksi karya-karya besar.
Maka sekalinya hal itu mereka kerjakan, sekalinya hal itu mereka rasakan, mereka merasa menjadi orang besar.
Dan mereka justru jadi lelucon dan target doa para mujahid sejati, “ya Alloh, berilah dia petunjuk...sungguh Engkau Maha Pengasih lagi maha Penyayang...“
Maka  satu lagi seorang pejuang tubuhnya luluh lantak. Jasadnya dikoyak beban dakwah. Tapi iman di hatinya memancarkan cinta... Mengajak kita untuk terus berlari...

Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu.
Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu.
Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu.
Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu.
Tetaplah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu.”
(alm. Ust Rahmat Abdullah)

Kalau iman dan syetan terus bertempur. Pada akhirnya salah satunya harus mengalah.
La'allanaa fii barokatillah....
Ya Alloh, karuniakanlah kami panasnya iman yang mampu membakar ruh HAMAASAH untuk terus bermujahadah dengan penuh kesabaran....aamiin.

Semangatiadakhir iEMaY !

Thursday, June 2, 2011

Kontemplasi ini

Edit Posted by with 2 comments
Saat hidup menyuguhkan beragam rumusan dan persepsi, saat semua orang sibuk beradu argumen, saling melempar retorika, merasa paling benar, menutup mata dengan kacamata kefanatikan, menyumbat telinga dengan kapas keegoisan, menolak setiap kritikan dan menangkisnya dengan sejuta alasan, maka aku lebih memilih untuk menghindar. Menghindar menuju kesendirian. Kesendirian yang akan mengajakku lebih banyak berpikir, lebih lama merenung. Menyelam ke dalam lubuk pikiran orang-orang, menerka apa yang orang lain rasakan, menilai cara mereka berpikir, mengetahui bahwa tiap orang punya cara pandang yang berbeda tentang apapun, hingga kemudian aku tenggelam dalam labirin penafsiran. Sendirian.

Terserah kau mau menyebutku pengecut atau pecundang yang bersembunyi di balik keapatisan. Terserah kau mau menyebutku egois atau semau gue. Setidaknya dari sana, ruang yang kusebut kontemplasi itu, aku mengerti betapa Alloh Sang Penulis Skenario benar-benar punya cara berbeda dalam mendidik anak cucu Adam.

Aku sangat ingat ketika ada yang mengingatkan, entah maksudnya mengingatkan atau memotivasi atau apa maksudnya aku pun juga tidak tahu. Yang jelas banyak yang menghasilkan tafsiran yang berbeda-beda ketika dia berucap. Aku memang paling sensitiv kalau sudah bicara tentang 'perbandingan'. Karena menurutku perbandingan itu baru boleh dibandingkan jika memiliki dua sisi yang sama, keadaan yang sama, kondisi yang sama, posisi yang sama. Sementara hidup ini dinamis, terus ada perkembangan, kadang di atas-kadang di bawah seperti roda berputar.

Jika diibaratkan seorang mukmin seperti seekor lebah, seperti dalam hadist "Perumpamaan seorang mukmin itu seperti lebah, ia makan yang baik, dan jika mengeluarkan sesuatu dari dirinya, ia mengeluarkan sesuatu yang baik, dan jika hinggap di kayu yang kering rapuh, ia tidak mematahkan kayu itu.” (Hadist Hasan diriwayatkan oleh Al Baihaqi),maka sebagai da’i yang tugasnya menyeru, mungkin kita belum memiliki daya sengat seperti yang dimiliki lebah. Ucapan kita tidak didengar, ajakan kita tidak direspon.

Sunday, May 29, 2011

Untukmu Teman

Edit Posted by with 1 comment
Huhf...cukup penat dengan tugas2, deadline2, belum di rumah baru ada acara bongkar rumah :D, [ceritanya baru  dibedah rumah ortu]. Hmm... sambil jaga toko umi di depan rumah, sambil ngerjakan tugas, kalau lagi pening2 gini, biasanya istirahat sejenak untuk refresh kembali otot dan otak yang mulai tegang, heheh...

Dengerin murottal udah, dengerin nasyid juga, hem... akhirnya biasanya buka file-file lama ketika rihlah bareng teman2 seperjuangan ketika itu. Rihlah di akhir periode kepengurusan with teman2 SKI . Jadi senyum2 sendiri, sedih juga, campur aduk, senyum karena Gue bisa GILA bareng mereka. Sedih karena saat ini harus berpisah dengan mereka, karena takdir menentukan bahwa saya harus menjalani amanah di tempat yang berbeda. Mereka yang bisa membantu menentramkan hati ketika suntuk, mereka yang ikhlas setiap membantu, mereka yang membantu membuatku tersenyum ketika benar2 merasakan kepiluan. Tapi, Ukhuwah itu tidak akan pernah berakhir, yah... Never Ending Ukhuwah :)

Hmm... jadi ingat nasyid-nya Brother "Untukmu Teman"
Di sini kita pernah bertemu 
Mencari warna seindah pelangi 
Ketika kau menghulurkan tanganmu 
Membawaku ke daerah yang baru 
Dan hidupku kini ceria 

Kini dengarkanlah 
Dendangan lagu tanda ingatanku 
Kepadamu teman 
Agar ikatan ukhuwah kan bersimpul padu 

Kenangan bersamamu 
Takkanku lupa 
Walau badai datang melanda 
Walau bercerai jasad dan nyawa 
Mengapa kita ditemukan 
Dan akhirnya kita dipisahkan 
Mungkinkah menguji kesetiaan 
Kejujuran dan kemanisan iman 
Tuhan berikan daku kekuatan 

Mungkinkah kita terlupa 
Tuhan ada janji-Nya 
Bertemu berpisah kita 
Ada rahmat dan kasih-Nya 

Andai ini ujian  
Terangilah kamar kesabaran 
Pergilah gelita hadirlah cahaya 
Diselamanya

Dan ini aksi GILA kami :D


Lagi


Lagi


Dan Lagi


Saudari2ku... aku rindu kebersamaan itu, aku rindu kita yang dulu, kenapa sekarang kita seperti tercerai berai, apakah memang aku yang sudah berubah, atau kalian? atau ini hanya pikiranku saja.
Tapi yang pasti, kalian akan selalu di hati ... 

Wednesday, May 25, 2011

Kenapa Harus Mereka?

Edit Posted by with 1 comment
Well... hasil dari browsing2, menemukan sebuah bacaan yang cukup mengena di hati ^_^

Terkadang orang heran dan bertanya, kenapa harus mereka?
Yang bajunya panjang, tertutup rapat, dan malu-malu kalau berjalan..
Aku menjawab.. Karena mereka, lebih rela bangun pagi menyiapkan sarapan buat sang suami dibanding tidur bersama mimpi yang kebanyakan dilakukan oleh perempuan lain saat ini..

Ada juga yang bertanya, mengapa harus mereka?
Yang sama laki-laki-pun tak mau menyentuh, yang kalau berbicara ditundukkan pandangannya.Bagaimana mereka bisa berbaur…

Aku menjawab.. Tahukah kalian.. bahwa hati mereka selalu terpaut kepada yang lemah, pada pengemis di jalanan, pada perempuan-perempuan renta yang tak lagi kuat menata hidup. Hidup mereka adalah sebuah totalitas untuk berkarya di hadapan-Nya.. Bersama dengan siapapun selama mendatangkan manfaat adalah kepribadian mereka.Untuk itu, aku menjamin mereka kepadamu, bahwa kau takkan rugi memiliki mereka, kau takkan rugi dengan segala kesederhanaan, dan kau takkan rugi dengan semua kepolosan yang mereka miliki. Hati yang bening dan jernih dari mereka telah membuat mereka menjadi seorang manusia sosial yang lebih utuh dari wanita di manapun..

Sering juga kudengar.. Mengapa harus mereka?
Yang tidak pernah mau punya cinta sebelum akad itu berlangsung, yang menghindar ketika sms-sms pengganggu dari para lelaki mulai berdatangan, yang selalu punya sejuta alasan untuk tidak berpacaran.. bagaimana mereka bisa romantis? Bagaimana mereka punya pengalaman untuk menjaga cinta, apalagi jatuh cinta?

Aku menjawab...
Tahukah kamu...bahwa cinta itu fitrah, karena ia fitrah maka kebeningannya harus selalu kita jaga. Fitrahnya cinta akan begitu mudah mengantarkan seseorang untuk memiliki kekuatan untuk berkorban, keberanian untuk melangkah, bahkan ketulusan untuk memberikan semua perhatian.

Namun, ada satu hal yang membedakan antara mereka dan wanita-wanita lainnya. Mereka memiliki cinta yang suci untuk-Nya. Mereka mencintaimu karena-Nya, berkorban untukmu karena-Nya, memberikan segenap kasihnya padamu juga karena-Nya… Itulah yang membedakan mereka..
Tak pernah sedetikpun mereka berpikir, bahwa mencintaimu karena fisikmu, mencintaimu karena kekayaanmu, mencintaimu karena keturunan keluargamu.. Cinta mereka murni.. bening.. suci.. hanya karena-Nya..

Kebeningan inilah yang membuat mereka berbeda… Mereka menjadi anggun, seperti permata-permata surga yang kemilaunya akan memberikan cahaya bagi dunia. Ketulusan dan kemurnian cinta mereka akan membuatmu menjadi lelaki paling bahagia..

Sering juga banyak yang bertanya.. mengapa harus mereka?

Yang lebih banyak menghabiskan waktunya dengan membaca Al-Qur’an dibanding ke salon, yang lebih sering menghabiskan harinya dari kajian ke kajian dibanding jalan-jalan ke mall, yang sebagian besar waktu tertunaikan untuk hajat orang banyak, untuk dakwah, untuk perubahan bagi lingkungannya, dibanding kumpul-kumpul bersama teman sebaya mereka sambil berdiskusi yang tak penting. Bagaimana mereka merawat diri mereka? bagaimana mereka bisa menjadi wanita modern?

Aku menjawab..

Tahukah kamu, bahwa dengan seringnya mereka membaca al Qur’an maka memudahkan hati mereka untuk jauh dari dunia.. Jiwa yang tak pernah terpaut dengan dunia akan menghabiskan harinya untuk memperdalam cintanya pada Allah.. Mereka akan menjadi orang-orang yang lapang jiwanya, meski materi tak mencukupi mereka, mereka menjadi orang yang paling rela menerima pemberian suami, apapun bentuknya, karena dunia bukanlah tujuannya. Mereka akan dengan mudah menyisihkan sebagian rezekinya untuk kepentingan orang banyak dibanding menghabiskannya untuk diri sendiri. Kesucian ini, hanya akan dimiliki oleh mereka yang terbiasa dengan al Qur’an, terbiasa dengan majelis-majelis ilmu, terbiasa dengan rumah-Nya.

Jangan khawatir soal bagaimana mereka merawat dan menjaga diri… Mereka tahu bagaimana memperlakukan suami dan bagaimana bergaul di dalam sebuah keluarga kecil mereka. Mereka sadar dan memahami bahwa kecantikan fisik penghangat kebahagiaan, kebersihan jiwa dan nurani mereka selalu bersama dengan keinginan yang kuat untuk merawat diri mereka. Lalu apakah yang kau khawatirkan jika mereka telah memiliki semua kecantikan itu?